Aku membuat komik ini bukan sekadar untuk menggambar kelinci lucu atau bermain warna. Di balik setiap dialog dan ekspresi, ada keresahan kecil yang sering aku lihat di sekitar: makanan yang terbuang sia-sia . Entah di kantin, di rumah, atau saat acara sekolah—terlalu sering aku melihat piring yang masih penuh ditinggalkan begitu saja. Lewat karakter kelinci, aku ingin menyampaikan pesan dengan cara yang ringan tapi tetap mengena. Kelinci dalam komik ini mewakili kita semua—yang kadang terlalu cepat mengambil, tapi lupa menyelesaikan. Ada satu adegan di mana Abel berkata, “Ah, ngak habis, Abel buang aja ya” —itu bukan hanya dialog, tapi cerminan kebiasaan yang perlu kita ubah. Aku sengaja menambahkan suara efek seperti “SHOOOR!!” dan ekspresi kaget agar pembaca, terutama anak-anak dan remaja, bisa merasa terlibat dan tertawa sedikit—lalu berpikir. Di bagian bawah, aku tulis: “Ayo habiskan makan ataupun minuman anda karena mubazir dan pamess!! #Kasihan orang tua mu” Kalimat itu...